Selasa, 27 November 2012

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN PELENGKAP DI PERKEBUNAN

A. Latar Belakang
Ada beberapa faktor agar produktivitas tanaman pelengkap yang diusahakan di perkebunan meningkat, yaitu penggunaan bibit unggul, kesesuaian lahan dengan jenis tanaman yang akan dibudidayakan, dan pemeliharaan tanaman. Pemeliharaan tanaman meliputi pemangkasan, penjarangan, pemupukan, dan perlindungan dari hama dan penyakit. Dari rangkaian usaha budidaya tanaman, masalah pengendalian hama dan penyakit yang kurang mendapat perhatian.
Hama adalah semua binatang yang menimbulkan kerugian pada tanaman yang diusahakan seperti serangga, tikus, bajing, babi dan rusa. Sedangkan pengertian penyakit adalah kerusakan proses fisiologis tanaman yang berdampak pada abnormalnya aktivitas sel atau jaringan yang disebabkan oleh tekanan atau infeksi dari kondisi lingkungan atau mikroorganisme yang biasanya dapat dilihat dengan bantuan alat pembesar (mikroskop).
Faktor utama yang menyebabkan hama dan penyakit dapat berkembang dengan baik, yaitu :
  • Tanaman inang dalam jumlah yang cukup.
  • Kondisi lingkungan yang sesuai dengan untuk perkembangan hama dan penyakit.
  • Keberadaan hama dan penyakit yang agresif melakukan infeksi.
  • Manusia sebagai pengelola tanaman.
HAMA DAN PENYAKIT  HAMA DAN PENYAKIT  HAMA DAN PENYAKIT
B. Pengendalian Hama dan Penyakit
Tujuan dari pengendalian adalah untuk mempertahankan produksi yang  tinggi, mantap dan berkesinambungan. Pengendalian hama dan penyakit dapat berupa pengendalian pencegahan (preventif) dan Pemberantasan (eradikasi). Beberapa hama dan penyakit yang biasa mengganggu tanaman pelengkap perkebunan seperti tanaman sengon, jabon dan gmelina, yaitu :
a. Tanaman Sengon
Hama
1. Ulat kantong (Pteroma plagiophels)
  • Pengendalian secara biologis, yaitu menggunakan jamur Beauveria bassiana (25 gr/ltr air).
  • Menggunakan insektisida nabati yaitu perasan biji mahoni 150 gr/liter air.
  • Menggunakan insektisida, yaitu berbahan aktif imidakloprid (Confidor).
2. Penggerek batang (Xystrocera festiva)
  • Pengendalian secara biologis menggunakan jamur Beauveria bassinana (25 gr/ltr).
Penyakit
1. Karat Tumor (Uromycladium tepperianum)
  • pengendalian dengan bahan belerang, kapur, garam dengan perbandingan =  belerang : kapur : garam = 10 : 10 : 1. dengan cara disemprotkan atau dilabur.
2. Busuk akar (Fomes sp dan Schizophillum sp )
  • Pengendalian secara biologis dengan menggunakan jamur Trychoderma sp.
  • Pengendalian secara fungisida dengan menggunakan bahan aktif triadimefon (Bayleton).
HAMA DAN PENYAKIT
b. Jabon
Hama
1. Pemakan daun (Arthochista hilaralis)
  • Menggunakan insektisida berbahan aktif BPMC dan imidakloprid.
2. Hama penggerek akar (lundi/uret)
  • Menggunakan jamur Metarrhizium sp.
HAMA DAN PENYAKIT
Penyakit
1. Bercak daun (Cercospora pestalotia)
  • Menggunakan fungisida berbahan aktif benomil dan belerang.
2. Penyakit embun tepung (Oidium sp)
  • Dikendalikan dengan fungisida berbahan aktif benomil.

c. Gmelina
hama
1. Hama kepik renda
  • Dikendalikan dengan insektisida berbahan aktif imidakloprid.
2. Kutu putih
  • Dikendalikan dengan insektisida berbahan aktif metidation.
3. Penggerek batang
  • Dikendalikan dengan jamur Beaauveria bassiana dengan dosis 25 gr/ltr air.
Penyakit
1. Penyakit busuk leher akar (Rhizoctonia solani)
  • Dikendalikan dengan jamur Trychoderma sp.
2. Penyakit bercak daun (Cercospora sp)
  • Menggunakan fungisida berbahan aktif benomil.

Sumber Pustaka :
1. Dra. IIIa Anggraeni (2012). Hama dan Penyakit Tanaman Hutan dan Sistem Pengendaliannya. Gelar Teknologi Hasil Penelitian, Bondowoso.
2. George N. Agrios (1996). Ilmu Penyakit Tumbuhan. Gajah Mada University Press, Yogyakarta.
3. Dr. L.G.E Kalshoven (1981). Pests Of Crops In Indonesia. P.T. Ichtiar Baru, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar